POLITIK

Survei: Karakter Pemilih Indonesia Cinta Sesaat

Sikap pemilih ini selalu berubah terhadap partai politik.

ddd
Rabu, 15 Mei 2013, 14:35 Hadi Suprapto, Syahrul Ansyari
LPI menemukan sifat pemilih Indonesia dalam menentukan pilihannya lebih didasarkan pada emosi dan cinta sesaat.
LPI menemukan sifat pemilih Indonesia dalam menentukan pilihannya lebih didasarkan pada emosi dan cinta sesaat. (VIVAnews/ Muhamad Solihin)

VIVAnews - Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) menggelar satu penelitian yang memotret karakteristik pemilih Indonesia dalam setiap Pemilu sejak 1999 hingga 2009.

Hasilnya, LPI menemukan bahwa sifat pemilih Indonesia dalam menentukan pilihannya lebih didasarkan pada emosi dan cinta sesaat.

"Pemilih bisa berubah rasa cintanya, tergantung bagaimana emosinya, seperti cinta monyet," kata Direktur LPI Boni Hargens di Jakarta, Rabu 15 Mei 2013.

Boni mengatakan, pemilih berdasarkan cinta sesaat itu dalam istilah ilmiah dikenal sebagai pemilih volatile, yaitu pemilih yang sikapnya terhadap partai politik selalu berubah. Pemilih seperti ini, katanya, akan selalu bermigrasi dalam setiap Pemilu ke Pemilu berikutnya. "Pemilu di Indonesia didominasi oleh pemilih volatile," ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, Boni melihat hanya tiga partai politik yang memiliki kecenderungan untuk mendapatkan suara yang stabil. Mereka adalah partai-partai yang berbasis pada ideologi dan kader seperti PDI Perjuangan, Partai Golkar, dan PKS.

"Tanpa kampanye, partai-partai ini akan mendapat suara dari para kader dan pemilih tradisionalnya. PDIP antara 13-15 persen, Golkar dengan basis-basis pemilihnya sebesar 9-10 persen dan PKS 4-5 persen," katanya.

Boni menjelaskan setidaknya ada lima alasan mengapa masyarakat Indonesia menjadi pemilih volatile.

Pertama, masyarakat tidak punya referensi ideologis yang umumnya ada pada pemilih pemula dan pemilih di daerah-daerah. Kedua, domnasi iklan dan political branding. Ketiga, lemahnya ideologi partai politik.

Keempat, krisis informasi dan pengetahuan politik tentang partai politik. Kelima, kekecewaan dan kejenuhan terhadap penamplan partai politik dan elite-elitenya. Misalnya, karena kebijakan yang tidak populis, korupsi politik, dan sebagainya.

Berikut adalah data perpindahan pemilih partai-partai politik dari Pemilu 2004 ke 2009.

1. PBB, 2004: 2,62 persen, 2009: 1,79 persen. Selisih suara 0,83 persen.
2. PAN, 2004: 6,44 persen, 2009: 6,01 persen. Selisih suara 0,43 persen.
3. PKS, 2004: 7,34 persen, 2009: 7,88 persen. Selisih suara 0,55 persen.
4. Partai Demokrat, 2004: 7,45 persen, 2009: 20,85 persen. Selisih suara 13,4 persen.
5. PPP, 2004: 8,15 persen, 2009: 5,32 persen. Selisih suara 2,84 persen.
6. PKB, 2004: 10,57 persen, 2009: 4,94 persen. Selisih suara 5,62 persen.
7. PDIP, 2004: 18,53 persen, 2009: 14,03 persen. Selisih suara 4,51 persen.
8. Partai Golkar 2004: 21,58 persen, 2009: 14,45 persen. Selisih suara 7,13 persen.
9. PKP dan partai-partai lain, 2004: 17,32 persen, 2009: 24,73 persen. Selisih suara 7,41 persen.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com