POLITIK

Elektabilitas Demokrat Turun

Hayono: Demokrat Tak Bisa Tunggu Jalur Hukum

Pimpinan DPP Demokrat diminta berjiwa besar mengutamakan martabat partai daripada pibadi.

ddd
Minggu, 17 Juni 2012, 16:24 Eko Huda S, Mohammad Adam
Hayono Isman
Hayono Isman (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)

VIVAnews - Anggota Dewan Pembina Demokrat, Hayono Isman, mengatakan penurunan elektabilitas partainya sebagaimana hasil survei sangat mengkhawatirkan. Dia meminta seluruh kader waspada.

"Elektabilitas Partai Demokrat berdasarkan hasil survei Lembaga Survei Indonesia sudah menyentuh angka 10 persen dari 21 persen Juni 2011," kata Hayono kepada VIVAnews, Minggu 17 Juni 2012. "Tinggal masalah waktu saja Demokrat akan turun di bawah 10 persen."

Menurut Hayono, seluruh kader dan fungsionaris partai harus mengantisipasi penurunan elektabilitas itu, sehingga Demokrat tidak semakin terpuruk. Semua kader, kata dia, harus kerja keras mengembalikan kepercayaan masyarakat.

"Bila hal tersebut terjadi, maka partai akan membutuhkan energi besar untuk mendongkrak kembali dan bukan mustahil gagal menjadi pemenang pemilu 2014," ujar Hayono.

Dia mengatakan, dalam kondisi saat ini, tidak ada pilihan lain untuk Demokrat. DPP Demokrat, memerlukan terobosan politik. "Sudah saatnya DPP ambil langkah politik, tidak mungkin lagi menunggu langkah hukum untuk menyelamatkan partai," kata dia.

Hayono menambahkan, DPP Demokrat tidak boleh ragu mengambil langkah drastis untuk menahan laju penurunan elektabilitas Demokrat. "Ini saat yang paling tepat pimpinan DPP menunjukan kebesaran jiwa untuk tidak mengedepankan kepentingan pribadi demi martabat partai," katanya.

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan Partai Demokrat anjlok ke posisi tiga jika pemilu digelar saat ini. Padahal pada pemilu 2009, Demokrat menempati posisi utama.

Demokrat hanya memperoleh 11,3 persen di bawah Golkar yang meraih 20,9 persen dan PDI Perjuangan yang mengantongi 14,0 persen suara responden. Bahkan, suara Demokrat terancam anjlok hingga di bawah 10 persen.

Korupsi Elit

LSI mengungkapkan, penurunan elektabilitas itu disebabkan oleh kisruh internal dan terlibatnya sejumlah elit Demokrat dalam kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games dan proyek Hambalang.

Dua elit Demokrat tengah terjerat kasus korupsi. Mantan Bendahara Umum, Muhammad Nazaruddin telah diganjar penjara dalam kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games. Angelina Sondakh, mantan anggota Fraksi Demokrat, juga sudah mendekam di Rutan Komisi Pemberantasan Korupsi terkait kasus yang sama.

Sementara, Sang Ketua Umum, Anas Urbaningrum, disebut-sebut tersangkut kasus korupsi Hambalang, meski dia berkali-kali membantahnya. Dia bahkan bersedia digantung di Monas jika terbukti terlibat korupsi itu. (ren)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
madmaulana
20/06/2012
Ada baiknya himbauan SBY ttg kader" yg korup utk mengundurkan diri d laksanakan oleh para kader yg memang terlibat kasus korupsi. Hal tsb penting agar citra partai tdk menurun.
Balas   • Laporkan
rizal.putopang
19/06/2012
jgn hanya bicara tunjukkan keberaniannya memecat kader" yg terindikasi korupsi, yg sering disebut" nazarudin... itu baru anti korupsi... klu tdk berani PD ke laut aja.... 2014,
Balas   • Laporkan
abacadabra
18/06/2012
La-la-la bung Isman, klo dlm taun ini paling tidak akhir 2013, korupsi di PD belum juga dituntaskan, jgn harap rakyat mau pilih PD. Camkan!
Balas   • Laporkan
dulkamid
18/06/2012
Butuh energi besar untuk mendongkrak kembali elektabilitas Demokrat. "Energi Besar" tentu asalnya dari duit yang juga besar. Dengan kondisi begini, duitnya dari mana??
Balas   • Laporkan
Katakan 'TIDAK' pada partai demokrat karena para elite partainya katakan 'YA' pada "KORUPSI", sebelum para elite tersebut digantung di 'MONAS' itulah 'FAKTA' yang tidak bisa dipungkiri !
Balas   • Laporkan
deswitaazzalia
18/06/2012
itulah efek dari bnyknya KORUPTOR di kader PARTAI DEMOKRAT yg ada,yg berjanji memberantas/anti KORUPSI ternyata yg terjadi justru sebaliknya,,
Balas   • Laporkan
hayono usman, orang orde baru, dan sekarang bicara reformasi
Balas   • Laporkan
ari57 | 18/06/2012 | Laporkan
HU, tokoh antek Golkar Orde Baru, bapaknya tokoh Golkar OB, menurun keanaknya antek Golkar Orde Baru.... Hare gini masih ngomong reformasi, demokrasi ...Capeeee dech
sugimin
17/06/2012
apapun upayanya...fakta nyata telah menjelaskan kualitas partai demokrat, selamat menuai keperpurukan atas janji palsu.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru